Pendalaman makna lalai dalam Sholat

Pengajian Ridho Allah, 2 April 2020

Narasumber: Bapak Antono Basuki

Bab 1: Orang yang lalai dalam Sholat

"Maka celakalah orang yang shalat,(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya" (QS.107:4-5)

Contoh Penjelasan orang yang lalai dalam sholatnya:

Si Fulan setelah bermaksiat kemudian bertobat dan sholat tobat, tapi kemudian kembali dia melakukan maksiat. maka dia lalai dengan Sholatnya karena niatnya untuk bertobat dengan sholat tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya kemudian setelah sholat

Pelajarannya:

1. Celakalah jika kita tidak menjalani apa yang kita ucapkan ketika sedang sholat

2. Kita harus mengerti makna yang kita ucapkan ketika sedang sholat agar tidak dianggap lalai dalam sholat

Keutamaan harus mengerti apa yang diucapkan ketika sedang sholat:

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati shalat ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, ..” (QS.4:43)

Bab 2: Berbuat sesuai dengan ucapan dalam Sholat

Contoh salah satu ayat yang diucapkan ketika Sholat:

Dengan nama Allah yang Maha pengasih, Maha Penyayang (QS.1:1)

maknanya: Apapun yang Allah lakukan (termasuk semua ijin kejadian) adalah berdasarkan Kasih Sayang-Nya

Selanjutnya setelah selesai sholat, jika kita menerima kejadian yang sudah diijinkan oleh Allah (berdasarkan Kasih Sayang-Nya),maka kita harus bisa menerima agar sikap kita sesuai dengan ucapan dalam sholat kita.

Bab 3: Ilmu Cermin

Ilmu Cermin adalah pendalaman bagaimana cara kita berbuat sesuai dengan ucapan dalam sholat

Pendahuluan Ilmu Cermin:

1. Fungsi Cermin adalah untuk memunculkan gambar di dalam cermin yang merupakan pantulan dari orang yang sedang bercermin ( menampung gambar orang yang bercermin)

2. orang yang melakukan kegiatan bercermin berada di luar cermin

3. agar gambar persis sama dengan orang yg bercermin maka bentuk cermin harus sempurna

4. Sumber gambar yang muncul di cermin adalah orang yang bercermin

5. Untuk memunculkan bayangan orang di dalam cermin, diperlukan penghubung antara orang yang bercermin dan cermin, yaitu: Cahaya

Ilmu Cermin dalam Kehidupan:

1. Dunia bisa dianalogikan seperti Cermin, dimana semua kejadian (termasuk semua kegiatan kita) bersumber dari Allah.

1. "Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya kamu dikembalikan" ( QS.36:83)

2. Kita mewakili Allah dalam bentuk melakukan kegiatan di dunia

3. Inilah yang dimaksud Allah berkehendak menjadikan manusia sebagai Khalifatullah (dalam Al-Quran QS.2:30), karena apa yang kita lakukan adalah bersumber dari Allah

4. Pengertian QS.1:1 dalam fungsi kita sebagai Khalifatullah bergeser menjadi:

"Atas Nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang", sehingga sikap kita sebagai wakil Allah:

² Berhati-hati dalam melakukan sesuatu

² Bersikap penuh kasih sayang

² Agar tidak termasuk golongan yang lalai dalam Sholatnya

6. Kemanapun kita menghadap disitu wajah Allah, cermin Allah, karena segala kejadian dimuka bumi itu adalah cerminan dari ijin Allah (dalam Al-Quran QS.2:115)

Bab 4: Kenapa ada kegiatan di muka bumi yang tidak sesuai dengan sifat Allah?

Allah menjalankan alam semesta dengan 2 mekanisme:

1. Hukum Sunatullah, misalnya: api jika di pegang akan terasa panas

2. Hak Mutlak Allah untuk menentukan Ketetapan

Bentuk Hukum Sunatullah: Ada manusia yang berbuat tidak baik

1. Manusia diberi kebebasan berbuat, tetapi kemudian mengikuti godaan syetan, sehingga perbuatannya menjadi jahat

2. Karena manusia diberi kebebasan berbuat, maka akan diminta pertanggung jawaban : “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?” (QS.75:36)

3. Sebelum mengijinkan manusia berbuat, Allah sudah memberi peringatan (dalam Al-Quran Q.S.9:115):

Bentuk Hak Mutlaqnya Allah

Hak prerogratif Allah untuk menentukan sesuatu di dunia sesuai dengan kehendak-Nya, misalnya mengabulkan do'a hamba-Nya

"Biarkanlah Aku (yang bertindak) terhadap orang yang Aku sendiri telah menciptakannya"(Q.S.74:11)

Bab 5: Kesimpulan

Kesimpulannya: Agar Sholat kita tidak dianggap lalai, berbuatlah hal yang baik dan bertindaklah dengan hati-hati sesuai dengan keinginan Allah menjadikan kita sebagai Khalifatullah di muka bumi

Tolok ukur: kita ada rasa sungkan terhadap Allah dalam beperilaku sehingga menghindari perbuatan kearah yang tidak baik